Neobux

Friday, July 28, 2006

sekali lagi

Untuk ke sekian kali nya, saya dihujam

Rasanya, tembok ini terlalu tinggi, terlalu tebal, terlalu kokoh untuk dilampaui.

ffhh...

Lelah ini sudah melantakkan tubuh
Tolonglah saya Tuhan
(siapapun engkau)

Sunday, June 11, 2006

Sindrom awal bulan?

Beberapa hari lalu, saya mengeluh kepada seorang teman yang saya kenal di pekerjaan baru,
"wah..dua hari ini kok males banget buat jalan ya?"
Dia tertawa ringan sambil ngomong
"itu biasa, sindrom awal bulan. Itu sudah umum kok, awal bulan males-malesan, pertengahan bulan mulai sibuk, akhir bulan kejar-kejar target."
"ya kalau bisa sih jangan ikut ritme seperti itu. Selalu rajin, jadi di akhir bulan kita tidak diburu target karena sudah nyicil setiap hari."

Alih-alih menyembunyikan kelemahan, saya hanya tertawa mengiyakan keberadaan sindrom itu. Dalam hati, saya mengeluh lagi. Apakah memang seperti ini? Adalah saya bukan saya yang saya tulis di Curriculum Vitae ketika melamar pekerjaan : Menyukai dan cepat mempelajari hal baru dalam pekerjaan, self motivated, dan bla bla...

Dengan pekerjaan sekarang yang minim -bisa dikatakan:tanpa- supervisi, saya bisa bekerja semaunya. Berangkat seenaknya dan menentukan strategi sendiri. Hasilnya, tentu kacau balau di bulan pertama. Karena ini pekerjaan dengan bidang yang sama sekali baru, dan saya memang kacau tanpa supervisi. Nah...

Anyway, ini seperti menguji kemampuan diri sendiri, sampai seberapa mampu saya dapat melakukan apa yang diharapkan dari si Bos.

------


Sampai akhir minggu ini, saya sudah bolos (uh.. tidak melakukan apapun, maksudnya) 4 hari. Awalnya karena berangkat ke Jakarta, lalu menjadi lesu sepulangnya. Rencananya sabtu ini pengin iseng jalan-jalan ngecek stok, tapi ternyata gagal juga. Seharian cuma dikamar, tiduran, main game, baca majalah. Baru keluar kamar setelah jam 9 malam lewat, nongkrong sebentar sambil makan, dan ke Puskom Unsoed cari koneksi internet gratis =).

Sebenarnya agak malas juga. Soalnya, kalau browsing, dijamin bakalan sampai larut malam bahkan pagi. Kalau seperti itu, dijamin pula rokoknya bakal ngebul terus. Padahal kemarin waktu di Jakarta sempat bikin rencana, dua bulan kedepan, bobot tubuhku harus bisa naik minimal 2 kilogram. Kalau seperti ini, melek malam + rokok, mana bisa...??

Sunday, May 21, 2006

eksistensi

Hari Minggu ini akhirnya saya sempat juga beli koran. Ketika saya membuka kolom sastra, ternyata ada kawan lama yang sebenarnya baru pernah ketemu satu kali, waktu itu setelah acara pembacaan puisi di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta. Wah..selamat ya, karya nya masuk di koran nasional. Saya memandang ini satu bentuk penghargaan atas eksistensi teman saya di sastra khususnya puisi.

Tentu saja saya salut karena dari sekian banyak teman yang saya kenal yang bergiat di (terutama) ranah sastra, sedikit yang menggelutinya dengan serius dan akhirnya membuahkan hasil nyata. Selebihnya, selepas kuliah kebanyakan sibuk mencari kerja, dan (mungkin) tidak sempat untuk bersastra ria. <-- seperti saya (apology... hehe)

Ngomong soal eksistensi, saya jadi berpikir tentang diri sendiri. Bukan soal sastra, tetapi soal memilih pekerjaan dan bergabung dengan satu perusahaan dan eksis disana. Sejak lepas kuliah tiga tahun lalu, setiap tahunnya saya berganti pekerjaan. Meloncat dari sana ke sini, mencari pengharapan dan impian bernama karir. Pekerjaan satu ke pekerjaan lain selalu berbeda bidang dan posisi saya juga berubah ubah.

Awal kuliah bekerja (dan belajar) sebagai designer grafis, pindah ke dunia manufacturing di bidang otomotive, beralih ke teknisi server, loncat lagi jadi analis kredit, dan sebentar lagi akan keluar untuk pindah di bagian marketing sebuah PMA. Wah... jangan bingung ya. Soalnya saya sendiri juga bingung. Dari sekian pekerjaan itu, tidak ada yang berkaitan dengan disiplin ilmu yang saya ambil semasa kuliah.

Kenapa pindah? Alasan paling umum : gaji dan karir. Ada yang gajinya lumayan, karirnya mentok, ada yang berpeluang karir, gajinya kere. Duhh...
Apa yang akan dimasuki sekarang memberikan peluang keduanya? entah, saya belum tahu. Pekerjaan yang akan saya masuki ini benar-benar baru. Bertemu dengan orang-orang baru, terusterang membuat saya stress, tapi sampai saat ini saya masih terus berusaha untuk bertahan dan memaksakan diri. Toh saya pikir ini tidak jelek untuk dijalani.

Eksistensi.
Lalu kapan dan dimana saya bisa eksis? Pekerjaan baru membuat saya harus memulai dari nol.

Anyway, saya coba easy going saja. Perkara duit, karir, dan penghidupan saya kedepannya pasrah saja. Percaya Tuhan selalu cukupkan dan tidak akan pernah memberi beban lebih berat dari yang bisa ditanggung manusia.
amin.