Neobux

Wednesday, January 14, 2004

Percintaan Kata-Kata

Aku mencoba melihat apa yang tak terlihat, membaca apa yang tersirat pada sekian banyak kata-kata yang muncul mencuat di layar bening berkedip, membawa bayanganmu, menyusunnya lewat serat dan menghadirkanmu dalam bentuk yang selalu saja tak pernah bisa terusung dengan sempurna dihadapanku. Terciptalah asa dan impian yang meski semu adalah menjadi indah untuk direbahkan diatas busa kasur sebagai teman saat mata terpejam.
Lembar demi lembar yang dihasilkan telah kususun menjadi sebuah buku bertumpukan dengan Jean-Paul Sartre, James Redfield, Franz Kafka, Michael Foucault, Plato, Socrates, Dorothe Rosa Herliany, dan Seno Gumira Ajidarma. Buku itu pula sama besar artinya dalam detik detik perjalananku karena kau memang telah pergi mengembara bersamaku menyongsong mentari pagi yang hangat diujung cakrawala dan mengambil potret seluruh senja jingga yang bertabur di bulir-bulir pasir yang tersapu air asin laut selatan;
dan katamu waktu itu, ‘Ini akan lebih indah bilia ada sebuah gitar untuk menyanyikan lagu cinta,’ Lalu aku bertanya, Lagu cinta milik siapa yang ingin kau dengarkan? The Beatless? Andy Williams? John Denver? Eric Clapton? Atau….lalu kuderetkan pada sepanjang pantai itu para nama penyanyi yang telah mengharumkan dunia melalui suaranya di Jazz hingga dangdut yang mendayu.
‘Terserah,’ matamu begitu sayu menatap buih yang hampir hilang jingganya.
‘Tapi bukankah kisah kita ada;ah sebuah lagu juga?’ kau masih saja tak menatap wajahku yang penuh harap terbelai gerai rambutmu. ‘Lalu mengapa kau bersusah payah mengaduk ingatanmu demi sebuah jiplakan?petiklah gitar itu dann nyanyikan untukku lagu cinta milik kita.
Aku terdiam. Maka berkumandanglah lagu kebisuan, lagu tanpa nada tanpa lirik, karena memang cintaku padanya hanyalah sebuah kebisuan.


- :: -


Percintaan kami, aku dan dia, adalah pertarungan kata-kata yang menjadi raja pada kegelapan dan berjeda saat matahari menaklukkan. Jual beli kemarahan dan kegembiraan tak pernah terjadi lama, setidaknya selalu kurang dari seperempat waku penamaan manusia, bukankah itu yang diajarkan agama???
Semuanya berlangsung begitu lama, sangat lama hingga kebosanan mencuat. Kegembiraan mendorong kami mendobrak batas fatamorgana memaksaa jarum jam berputar lebih lama. Kegembiraan memberi kekuatan untuk kami melawan terik matahari, menyelimuti tubuh dengan jubah yang jauh lebih tebal ketimbang yang telah ada agar kulit dan daging tak lekas terkelupas dan gosong.


dimana ada 'cinta' ?

Adakah cinta tercecer dimana-mana? Di taman, di dalam kamar, di rumah, di mobil, di pinggir jalan, di alun-alun, di tempat sampah, di pantai, di laut, di atas langit, di emperan toko? Adakah ?

Saturday, January 03, 2004

Surat dari Teman

seorang teman menulis dari dunianya yang masih penuh gemerlap. Aku merindukannya

Perempuan itu memburuku, dia mencariku sampai ke lubang hitam kehidupan. Matanya begitu tajam seperti mata kelelawar dimalam hari dengan keunggulan infra merahnya. Penciumannya seperti harimau kelaparan memburu mangsa. Gerakkannya seperti ular sawah yang menujijikan dan bau. Aku meninggalkannya, dalam akhir tahun yang buta. Aku tak memperdulikannya!

Seorang sahabat setia teronggok dalam tong sampah kapitalisme. Mengerang, menahan bau busuk dan gigitan serangga yang membunuh dengan pelan. Dia, tetap dia! Dan itu pasti! Meskipun telah mengunyam dengan tergesa-gesa pelajaran semantik. "Bahwa aku bukanlah aku".

Aku baca suratnya, lewat e-mail ini, dihari ketiga tahun 2004. Saat rembulan tampak separuh dengan cahaya kekuningan. Membaca suratnya membantuku mengaduk kenyataan yang ada dalam gagasanku. Dia mengatakan padaku, bahwa aku begitu mengingatkannya akan sesuatu hal. "Pengendalian diri!" itu yang di tulisnya. Kata itu membuatku seperti seorang petinju yang mendapat jotosan balasan tepat dirahang yang membuat terjatuh dan berfikir.

Bagaimana aku menggambarkan kerinduannya, akan kasur kumal, buku-buku berserakan, baju kotor yang teronggok disudut ruangan dan segunduk kenangan yang sudah menjadi sampah. Mungkinkah terulang, sedangkan waktu berjalan pelan menuju kematian?

Dia gunakan ajian pamungkas warisan kakek moyang, "Ilmu RagaSukma". Mungkin, yah mungkin ilmu itu yang menyeretku untuk menulis balasan suratnya, merindukan segala sesuatunya dan mungkin karena ilmu itu yang selalu saja membuat telingaku berdenging "....nging".

Setiap telinga berdenging, aku selalu mengaharap ada kebaikan. "Pengendalian diri" itulah kebaikan dari segala kebaikan. Yang tercantum dalam hukum-hukum Tuhan, tersurat dalam kitab-kitab lima agama, mengganggu para filsuf dari jaman ionia sampai sekarang. Menjadi pencarian segala manusia. Dan dia, mengingatkanku akan hal itu.

Berhentilah bertanya pada waktu, karena waktu sebenarnya tidak tahu apa-apa.


"Do, ndi bokepe?"
"Bentar Don, aku kirim e-mail dulu".